Keindahan dan kesakralan persalinan normal alami sudah jarang yang merasakan. Komunitas ini mengajak kita untuk kembali ke sana.

Sekarang ini persalinan sering digambarkan sebagai peristiwa yang menyeramkan, penuh kesakitan, teriakan, berdarah-darah, kepanikan, dan sejenisnya. Itulah mengapa banyak perempuan justru memilih melahirkan anaknya dengan operasi sesar ketimbang normal alamiah.

Padahal ada sisi lain dari persalinan yang menjadi terkaburkan karena gambaran seram tadi, seperti sosial dan budaya. Gambaran persalinan yang indah, tenang, sakral, damai – dan tetap aman, yang sesungguhnya juga ada, menjadi dipandang aneh dan seolah mengada-ada.

Asal kita selamat, bayi lahir sempurna dan sehat secara fisik, dianggap sudah cukup. Sementara, bagaimana pengalaman psikis kita saat melahirkan dan bayi saat dilahirkan, cenderung diabaikan atau belum memperoleh cukup perhatian.

Kondisi inilah yang melatarbelakangi lahirnya komunitas Gentle Birth untuk Semua (GBUS). Diawali dengan dibuatnya grup di facebook pada Juli 2011 oleh Dyah Pratitasari dan Yesie Aprillia sebagai administrator yang mengajak beberapa ahli dan praktisi sebagai kontributor. Dan sekarang, admin GBUS berjumlah lima orang (dengan tambahan Nur Farida Ahniar, Diana Elsa Vonie, dan Hanita Fatmawati).

“Jika selama ini sudah banyak gambaran seram tentang melahirkan, maka gambaran persalinan yang positif bagi ibu juga perlu mendapat tempat,” kata Dyah. “Untuk itu, perlu satu wadah yang menampung pengalaman positif tentang persalinan, serta mengajak para praktisinya untuk berbagi.” Harapannya, pesan bahwa persalinan itu proses yang tidak perlu ditakutkan, tapi harus dipersiapkan sebaik mungkin, sedini mungkin akan sampai ke masyarakat luas.

Dalam praktiknya, gentle birth memberi kesempatan pada para ibu untuk percaya, memberdayakan, dan memegang otonomi tubuhnya sendiri, sementara tenaga medis dan perlengkapannya bersifat sebagai fasilitator.

 

Tak hanya masalah persalinan

Dijelaskan oleh Dyah, gentle birth mempunyai arti persalinan yang lembut, tenang, santun, dan memanfaatkan semua unsur alami dalam tubuh seorang manusia.  Selain sehat secara fisik, kebutuhan psikis ibu dan bayi diusahakan agar terpenuhi semaksimal mungkin. Jadi tujuan gentle birth adalah persalinan aman dan berkualitas, baik secara fisik, mental, maupun spiritual.

Masih banyak yang menganggap gentle birth itu kuno dan primitif. Padahal, sesuatu yang sifatnya “kuno” dan primitif tidak selalu buruk. Ada kalanya, untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, kita justru perlu belajar pada kearifan sifat alam. “Tentu saja dengan tidak mengabaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi yang hadir agar ibu dan bayi berisiko tinggi bisa diselamatkan,” tandas Dyah.

Sebetulnya, kata Dyah, konsep gentle birth tidak hanya berkutat pada saat persalinan, melainkan mencakup perjalanan panjang yang saling berkaitan. Dimulai dari melakukan seks yang legal, sadar, dan sakral, kehamilan yang sehat dan alami, persalinan yang aman dan ramah jiwa, hingga mengasuh anak dengan penuh kesadaran.

Pada awalnya, GBUS terbentuk dari teman-teman yang ingin berbagi pengalaman. Seiring berjalannya waktu, anggotanya semakin bertambah. Kini, anggota dalam grup facebook Gentle Birth uuntuk Semua berkisar 25 ribu orang dari berbagai kalangan, bahkan para pria.

“Komunitas kami terbuka untuk siapa pun yang ingin mempelajari gentle birth, atau berbagi ilmu sesuai latar belakang dan sudut pandangnya masing-masing,” ujar Dyah yang juga berprofesi sebagai guru yoga ini. “Syaratnya cuma satu, yaitu bergabung dengan hati tulus dan terbuka.”

Aktivitas rutin

Aktivitas sehari-hari GBUS adalah menyediakan forum berbagi dan berdiskusi di grup facebook. Dalam forum tersebut, para anggota saling berbagi informasi dan pengalaman satu sama lain.

Selain itu, secara berkala, GBUS mengadakan kopi darat yang diisi dengan berbagai kegiatan. Sebut saja olahraga bersama dan kelas prenatal sebulan sekali di taman terbuka (tepi danau UI Depok dan Kemang Pratama), simulasi mendampingi persalinan untuk para ayah, bincang-bincang dengan bidan dan dokter kandungan yang telah mendalami gentle birth, prenatal exercise, dan penggalangan donasi untuk disumbangkan ke klinik sosial yang menangani ibu hamil dan melahirkan.

“Pada akhirnya, kami berharap, semua orang bisa merasakan manfaat dari persalinan yang ramah jiwa, apa pun metodenya. Baik pada persalinan normal maupun sesar,” ucap Dyah menutup perbincangan.

Komunitas Gentle Birth untuk Semua
www.gentlebirthuntuksemua.net
fb: Gentle Birth untuk Semua