Meskipun tidak berakar dalam budaya Nusantara namun sepanjang perkembangannya musik jazz telah terbukti cukup fleksibel sehingga dapat terasimilasi ke dalam alunan lagu dari budaya mana pun, termasuk Indonesia.

Hal tersebut dapat didengar dari pagelaran Kemang Jazz Corner yang berlokasi di Synthesis Residence Kemang pada Sabtu (20/08) silam. Performa dari musisi andal seperti Agam Hamzah (yang tampil di bawah nama Ligro) dan band Orkes Gembira menunjukkan kalau jazz memiliki beat yang lentur sehingga bisa dikombinasikan dengan musik tradisional.

“Kami memilih musik jazz karena memang peminatnya di Indonesia—terutama di Jakarta—cukup banyak,” ungkap Chandra Wicaksana, Event and Promotion Supervisor Synthesis Residence Kemang“Apalagi di Kemang—banyak sekali komunitas pecinta jazz di sekitar area ini. Oleh karena itulah, bersama dengan Komunitas Jazz Jakarta, kami memilih jazz sebagai bagian dari rangkaian acaraIndonesia is Me.”

Pernikahan antara jazz dan musik tradisional sangat sempurna dimainkan oleh band yang relatif baru, Orkes Gembira, yang melantunkan lagu jazz klasik seperti Aqua de Beber-nya Astrud Gilberto dengan iringan alat musik tradisional seperti kecapi. Band yang terdiri dari, antara lain, Nesia Medyanti Ardi (vokal), M Rizky (keyboard/akordion), dan Donny Prasetyo (keyboard/piano) ini selain menyanyikan lagu lokal seperti Kicir-Kicirmereka juga memainkan lagu orisinal yang berjudul Nonton Bola yang sangat bersemangat dengan lirik jenaka.

Sementara itu, dalam penampilannya, Agam Hamzah menghadirkan Satria, gitaris cilik super berbakat yang jadi anak didikannya di Farabi School, dan bersama-sama mereka nge-jam bareng memainkan lagu-lagu klasik jazz dari Thelonius Monk. Di awal acara Agam juga mengadakan Gitar Coaching Clinic bagi para hadirin yang berminat mendalami instrumen favorit mereka.

Selain mereka, Kemang Jazz Corner juga dimeriahkan oleh performa dari grup acapella, BJF Sweet Voices yang dua personelnya merupakan jebolan kontestan X-Factor dan Indonesian Idol, dan, sebagai musisi