Dahulu pada tahun 1960-an kawasan Palatehan, Kebayoran Baru, Jakarta menjadi salah satu sentra artshop di Ibu Kota. Di sanalah Galeri Hadiprana mulai berdiri. Hendra Hadiprana, pemiliknya, memberikan kesempatan kepada para seniman pelukis maupun pematung memajangkan karyanya agar bisa diapresiasi masyarakat. Namun dibangunnya terminal Blok M yang baru kemudian, malah membuat para pecinta dan pekerja seni merasa tidak nyaman.

Galeri Hadiprana pun kemudian melirik Kemang, yang kala itu sudah banyak didiami para ekspatriat yang sangat mengapresiasi seni-budaya Indonesia. Pada tahun 1997 galeri ini pun pindah ke Jl. Kemang Raya 30. Pada tahun 1998 putri Hendra, Puri Hadiprana, mendirikan Hadiprana Art Centre, setelah melihat banyak warga Jakarta yang mengalami trauma dengan peristiwa Mei 1998. Di sini ia mengajak anak-anak dan orang dewasa melakukan kegiatan seni seperti menggambar dan melukis sebagai terapi trauma healing. Tentang Kemang, perempuan kelahiran Jakarta 52 tahun lalu ini memberikan pandangannya berikut ini.

“Seharusnya Kemang bisa menjadi salah satu tujuan wisata di Jakarta yang akan memberikan pengalaman seni dan budaya kepada pengunjung. Apalagi mengingat makin banyaknya galeri seni berdiri di kawasan ini. Sayang, dukungan pemerintah belum maksimal karena perizinan yang masih sangat tidak menunjang visi Kemang ini. Tentu saya berharap akan ada perbaikan peruntukan di Kemang, melihat perkembangan bisnis di Kemang yangg sangat natural, ke arah seni dan budaya.

Kemang akan terlihat indah jika tetap dijaga keunikannya. Kemang harusnya menjadi sebuah kampung modern, yang menjaga desain arsitektur, lansekap, serta fungsi jalan yang lebih ramah bagi pejalan kaki serta pengguna sepeda. Trotoar diperbaiki, ada jalur khusus sepeda, serta ada sejumlah tempat parkir umum dan tidak ada bangunan tinggi (lebih dari 4 lantai).”