Kiprahnya sudah 32 tahun. Banyak seniman hebat lahir dari galeri ini 

Ketika Anda ke wilayah Kemang, mampirlah sejenak di Edwin’s Galeri. Kiparahnya di perkembangan dunia seni modern Indonesia tak diragukan lagi. Sudah banyak seniman hilir mudik berpameran di sini.

“Kami berkiprah dalam pegulatan seni di Indonesia sudah 32 tahun. Pada tahun 1984 kami didirikan. Dan saat ini masih bertahan dan mampu berkembang,” tutur  Edwin Rahardjo (63), sang pemilik. Baginya seni adalah jiwa. Tanpa seni kehidupannya serasa hampa. Eksistensinya yang sampai sekarang masih terjaga, membuat banyak kalangan tidak hanya seniman memuji pria yang berlatar belakang arsitek dan desain interior ini.  Minim pengalaman di bidang seni tak membuat dirinya kehilangan kepercayaan memulai petualangannya membuka galeri seni. Di mata para seniman kehadiran Edwin’s Gallery seperti oase. Menyejukkan di tengah tandusnya banyaknya galeri seni yang mati.

“Galeri ini berdiri di tengah lahan lebih kurang 2.000 meter persegi. Ada beberapa bangunan di dalamnya. Untuk bangunan utamanya tampak seperti rumah joglo kalau dilihat dari depan,” jelas Edwin. Ia menambahkan bahwa bangunan utama itu adalah ruang pameran atau galeri yang terdiri dari dua lantai. Di tempat terpisah terdapat ruang pribadi Edwin yang berfungsi sebagai ruang tamu. “Di ruang inilah saya menyimpan beberapa koleksi barang seni kinetik. Salah satunya adalah hasil karya saya sendiri. Karya itu telah diikutsertakan dalam pameran skala internasional di London dan di Dubai,” ujarnya dengan senyum.

Pencarian Bibit Seniman

Edwin’s Gallery dikenal sebagai salah satu tempat mencetak seniman muda yang berbakat. Melalui galerinya, Edwin memperkenalkan seniman Indonesia hingga ke dunia internasional. Lewat galerinya pula Edwin mencari bibit seniman baru berbakat. “Semua upaya ini kami lakukan semata-mata untuk lebih memperkaya pengalaman seniman-seniman kita. Karena dengan melihat karya-karya seniman negara lain, mereka dapat melakukan perbandingan dengan kondisi seni rupa kita,” ungkapnya.

Beberapa seniman kontemporer seperti Sunaryo, Nyoman Nuarta, Heri Dono, Dolorosa Sinaga, Agus Suwage, Handiwirman, Ivan Sagita, S. Teddy D, dan Yani Mariani Sastranegara pernah mempresentasikan karyanya di Edwin’s Gallery. Tak kurang dari  200 kali pameran yang merepresentasikan karya dari ratusan seniman Indonesia.

Tidak hanya seniman Indonesia yang pernah berpameran di sini. Beberapa seniman manca seperti Zhang Xiaogang, Tang Zhigang, Wang Guangyi, Yue Minju, dan Fang Lijun dari Tiongkok pernah memamerkan karyanya. “Dengan kurator Johnson Chang, hasil karya mereka pernah dipamerkan di sini. Pada tahun 2011 juga menampilkan karya seni dari seniman Korea, Yi Hwan Kwon,” imbuhnya.

Tercatat pada tahun 2012, Edwin’s Gallery bekerja sama dengan Andrew Shire Gallery menggelar pameran yang menampilkan karya-karya dari 12 seniman kontemporer Korea, di antaranya adalah Osang Gwon dan Yee Sokyung. Di tahun yang sama, bekerja sama dengan delapan galeri dari Jepang menyajikan karya seni dari 14 seniman kontemporer Jepang. Nama beken seperti Hitto Asai, Hiroyuki Matsuura, Mitsuru Watanabe, Showichi Kaneda, dan Takafumi Hara ikut dalam pameran ini.

Edwin berharap para seniman Indonesia bisa mengikuti perubahan di dunia seni rupa. “Dunia bergerak terus. Saya selalu suka pada sesuatu yang baru, yang inovatif dan kreatif. Saya harap para seniman Indonesia juga bisa mengikuti perkembangan seni rupa dunia,” ujarnya.

 

Harga Naik Itu Bonus 

“Kalau kita bicara seni adalah bicara keindahan, tak lebih. Namun belakangan tidak dimungkiri karya seni bergeser menjadi investasi. Namun saya sangat anti ‘bermain’ lukisan. Makanya saya malas kalau ditanya lukisan mana yang paling menguntungkan ke depan,” jelas Edwin.

Edwin mengakui bahwa nilai jual di lukisan bisa saja melonjak setiap saat. Baginya kenaikan harga lukisan adalah bonus. Karena bonus, makanya tidak menjadi prioritas dalam menilai sebuah hasil karya seni. “Melihat hasil karya yang bagus, Anda pasti akan menikmati dan kemudian Anda senang. Di situ muncullah kepuasan. Nah kalau ada imbasnya, seperti harganya naik dan bisa dijual tinggi itu namanya bonus. Dan sudah semestinya, soal bonus ini jangan diutamakan. Tapi ternyata banyak orang berpikir menginginkan keuntungan dari lukisan. Bagi saya itu jelas kurang tepat dalam melihat karya seni,” keluh Edwin.

Edwin memberikan sebuah tips bagi yang ingin menjadi kolektor seni. “Saran saya pertama kali Anda harus mengasah rasa dan estetika Anda. Caranya dengan banyak membaca dan datang ke pameran-pameran. Jangan membeli lukisan hanya karena mendengar dari orang dan harganya,” pungkas Edwin.

Edwin’s Gallery
Jl. Kemang Raya No. 21, Kemang, Jakarta 12730, Indonesia
Tel: 021 7194721, 021 71790049, Fax: 021 71790278
e-mail : edwins_gallery@yahoo.com