Menjaga kesehatan, saling berbagi, dan beramal dengan penuh kegembiraan di akhir pekan.

Setidaknya 10 tahun yang lalu, ranah yoga di Tanah Air terasa kurang bersahabat bagi masyarakat banyak. Beredar kontroversi seputar fatwa MUI dengan poin-poin penegasan bahwa yoga itu haram, terkait kandungan mantra dalam latihan yoga yang identik dengan spiritualitas Hindu. Padahal fatwa tersebut juga menjelaskan bahwa jika yoga dilakukan murni untuk olahraga dan kepentingan kesehatan, boleh-boleh saja.

Belum lagi, kala itu olahraga yang satu ini lebih banyak dilakukan oleh kaum sosialita maupun figur publik. Mereka mengikuti para diva dunia yang tengah menjalani yoga sebagai bagian dari gaya hidupnya. Madonna salah satu contohnya. Sehingga, yoga di sini terkesan amat eksklusif dan mahal.

“Padahal saya merasakan kalau yoga banyak manfaatnya, bagi tubuh, pikiran, dan jiwa,” tutur Yudhi Widdyantoro, inisiator komunitas Yoga Gembira. “Saya ingin yoga bisa diakses oleh lebih banyak orang. Amat disayangkan kalau manfaatnya cuma bisa dinikmati oleh sebagian kalangan.”

Pria yang berprofesi sebagai guru yoga ini kemudian berpikir untuk menggelar latihan yoga di ruang terbuka hijau. Karena dengan begitu masyarakat umum dapat melihat bahwa yoga tidaklah ‘menakutkan’ sehingga perlu mendapat label haram. Dan tentunya akan membuka akses bagi siapa saja untuk ikut berlatih yoga.

Di taman, ziarah alam

Maka pada awal tahun 2009, Yudhi mulai belatih di Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat. “Waktu itu saya latihan benar-benar sendirian, seperti orang gila,” kenangnya sambil tertawa. “Kemudian ada beberapa orang yang sedang lewat, ikut latihan. Beberapa gerakan lalu bosan, pergi lagi. Ya sudah, tidak apa-apa.”

Kini sekurangnya ada 100-an orang yang hadir berlatih yoga saat Yoga Gembira menggelar latihan rutinnya, di Taman Suropati setiap Minggu mulai pukul 7 pagi.

Pemilihan taman sebagi lokasi latihan, seperti dijelaskan oleh Yudhi, akan memperkuat pemahaman akan salah satu filosofi yoga, yakni untuk lebih dekat dengan alam. “Di taman kita berada lebih dekat dengan alam, kita ziarah kembali ke alam.

“Alam memberi inspirasi bagi yoga,” ia memaparkan, “gerakan-gerakan dalam yoga bahkan ada yang membentuk postur pohon atau ular, misalnya. Nah, kerena alam sudah memberi inspirasi bagi olahraga yang menyehatkan tubuh kita, sudah sepantasnya kita menyayangi alam. Salah satunya dengan mengunjunginya, bersentuhan, seperti berlatih yoga di alam.”

Tambah sehat, tambah kerabat

Di antara filosofi yoga yang terbilang dalam, Yudhi ingin latihan yoga dilakukan dengan penuh kegembiraan. Karena itu di Yoga Gembira tidak mustahil dalam melakukan gerakan yoga, seseorang dibantu oleh pasangannya atau orang lain.

Ditambah lagi tak jarang pula ada satu atau beberapa orang yang datang berlatih dengan membawa cukup banyak makanan untuk disantap bersama-sama, layaknya potluck, selepas latihan. Asyik, kan?

Sementara, pengajar yoga yang menjadi instruktur saat latihan mesti menanggalkan atribut dari style atau aliran yoga yang ia usung sehari-hari. “Tidak pelu mengangkat style atau alirannya, tapi lebih kepada manfaatnya,” Yudhi menegaskan, “sehingga menghindari fanatisme terhadap style atau aliran yoga tertentu.”

Selain sehat dengan beryoga serta bergembira, komunitas yang juga dipanggil dengan singkatan “yogem” ini pun menekankan aspek ilmu dan amal. Setelah sekitar 1 jam 15 menit berlatih yoga, waktunya sharing pengetahuan namun di luar yoga. Temanya macam-macam serta menghadirkan praktisi dan ahli di bidang-bidang tertentu. Di akhir sesi, para peserta dipersilakan untuk berdonasi secara sukarela untuk kegiatan amal.

Meski sesi telah selasai, bukan berarti kegembiraan usai. Jika hari itu tidak ada yang membawakan makanan, ada tradisi bernama “pintong” alias “pindah tongkrongan”. Maksudnya adalah berpindah dari tempat latihan, mencari tempat sarapan.

Ketika perut sudah kenyang pun kadang kegiatan terus berlanjut. “Makan siang lalu nonton bareng di bioskop, misalnya. Ada saja, kadang sampai sore hari baru benar-benar selesai,” ujarnya, “Jadi, membangun kekerabatan.” Wah, seru!

Kalau Anda penasaran, tinggal datang membawa matras yoga atau yang lainnya untuk alas saat latihan, setiap hari Minggu di Taman Suropati, Menteng, Jakarta.