Galeri 678 menyapa pecinta seni dengan semangat dinamis, kreatif, inovatif, dan demokratis.

Memiliki ruang pamer terluas di Jakarta, yakni 492 meter persegi, Galeri 678 menjadi pusat informasi serta kegiatan seni rupa dengan konsep “one stop art destination” untuk semua hal yang berhubungan dengan seni rupa dan perkembangannya. Ia menyapa pencinta seni dengan semangat dimanis, kreatif, inovatif, dan yang tak kalah penting, demokratis.

Galeri ini kali pertama berdiri pada 1999 di kawasan Tanjung Priok Jakarta Utara. Setahun kemudian, pada 24 Maret 2000 galeri 678 pindah ke Jalan Kemang Raya 32 dengan luas bangunan mencapai 1.500 meter persegi. Kemudian, pada 11 Juni 2005 galeri ini bermigrasi ke Gedung 678 yang merupakan manifestasi dari sinergi galeri, penginapan, meeting room, dan rumah makan di Jalan Kemang Selatan 125A. Gedung ini memiliki luas 2.400 meter persegi.

Beberapa seniman kelas atas pernah singgah dan memamerkan karyanya di galeri milik Suntoso Jacob ini. Di antaranya, Afriani. Seorang pelukis bernama William Robert mencari sponsor agar Afriani bisa menghelat pameran. Mimpi Afriani untuk memamerkan karyanya terwujud pada 26 Agustus sampai 6 September 2015. Pemeran ini menampilkan sekitar 26 lukisan Afriani yang dibuat sepanjang 2015.

Beberapa karya yang sangat mencengangkan dari Afriani yakni “Takdir Pemenang” (150 X 300 cm, cat minyak di atas kanvas), “Mendobrak Tradisi” (200 X 150 cm, cat minyak di atas kanvas), serta “Perjalanan Kemenangan” (200 X 500 cm, cat minyak di atas kanvas).

Koleksi paling beragam

Galeri 678 bukanlah “panggung” khusus bagi pelukis. Pameran lain seperti fotografi, patung, bahkan kimono pun pernah hadir di sini. Salah satu pameran yang melanggan Galeri 678 adalah pameran seni rupa “Indonesian-Japan Cultural Exchange” pada 28 Oktober sampai 7 November 2015. Pameran ini sudah sepuluh kali dihelat dengan lokasi bergantian antara Indonesia dan Jepang.

“Kalau tidak salah pameran seni rupa ‘Indonesian-Japan Cultural Exchange’ itu sudah lima kali digelar di Galeri 678. Pameran lainnya yakni ‘Pikiran, Tubuh, dan Jiwa: 77 Tahun Huang Fong’ dengan kurator dan penulis Suwarno Wisetrotomo dan Agus Dermawan T. Untuk pameran skala besar biasanya digelar dua atau tiga kali setahun, mengingat minat masyarakat terhadap lukisan tidak sebesar lima atau sepuluh tahun lalu,” terang Ade Suryani, admin Galeri 678.

Pengalaman selama belasan tahun di dunia seni menjadikan Galeri 678 sebagai galeri dengan koleksi paling beragam. Anda bisa membaca sejarah perjalanan dan perkembangan seni rupa Indonesia melalui koleksi yang dimiliki galeri ini mulai dari periode Mooi Indie, periode Persagi, periode Bali, periode seni rupa modern dekade 80-an, hingga aliran kontemporer.

Koleksi Galeri 678 antara lain dari Abas Alibasyah, Affandi, Barli Sasmitawinata, Batara Lubis, Dewa Putu Bedil, Erica Hestu Wahyuni, I Made Djirna, Lee Man Fong, Nasirun, Srihadi Soedarsono, Widayat, dan masih banyak lagi. Menariknya, Galeri 678 ini bagaikan restoran dengan banyak menu.

Banyak fitur

“Galeri ditempatkan di lantai 1 karena galeri ialah main course-nya. Kami melengkapi galeri ini dengan fitur-fitur lain misalnya rumah tamu, yakni penginapan dengan kamar standar bintang tiga. Ada sekitar 41 kamar di sini dengan harga terjangkau yakni Rp 425 ribu untuk tipe standar. Sementara bagi yang menginginkan tipe suit, tarif Rp 750 ribu. Fitur lainnya, restoran Soto Kudus 678 di area belakang gedung ini. Ada juga fitness and spa center untuk menjaga kebugaran Anda,” jelas Ade.

Ade menambahkan, “Kami menyadari, seniman atau tamu seringkali datang dari luar Jakarta. Ada yang dari Bali, Yogyakarta, Surabaya, dan lain-lain. Jadi, mereka tidak perlu repot mencari hotel dan makanan karena kami menyediakannya. Lantai 1 untuk ruang pameran yang bisa dialihfungsikan sebagai meeting room berskala besar. Lantai 2 untuk rumah tamu dan front office. Di lantai 3 ada spa and fitness center. Lantai 4 untuk ruang meeting room dengan ukuran lebih kecil dan beberapa kamar tamu. Sementara lantai 6 dan 7 untuk rumah tamu.”

Meski kerap dijadikan rumah bagi para seniman kelas atas, Galeri 678 tak lantas mengharamkan para seniman pendatang baru untuk menjejakkan kaki mereka di sana. Itu terbukti ketika seniman cilik Anfield Wibowo mengetuk pintu. Galeri 678 mendukung Anfield dengan mengundang para kolektor langganan mereka agar bersedia datang, mengapresiasi karya sang seniman.

“Kini kami berada di jalan Kemang Selatan Raya. Masyarakat Kemang memiliki apresiasi seni yang cukup tinggi. Kemang adalah pasar seni yang potensial. Ini sesuai dengan salah satu misi Galeri 678 yakni mewadahi para seniman dan masyarakat dalam meningkatkan kreativitas maupun apresiasi terhadap seni, khususnya seni rupa,” pungkas Ade.

 

Galeri 678
Lokasi    : Jl. Kemang Selatan Raya 125 A Jakarta Selatan
Telepon : 021-71792838, 021 71792852