Kita semua saling terhubung. Jadi, membahagiakan orang lain sejatinya sama dengan membahagiakan kita juga.

Ketika terlontar pertanyaan “apakah yang paling diinginkan dalam hidup?” maka jawaban yang paling sering muncul adalah “kebahagiaan”. Ingin sehat, ingin kaya, ingin kuasa, dan bermacam ingin lainnya, hanyalah merupakan anak tangga yang bisa kita lalui untuk mencapai puncaknya, yaitu bahagia. Sebab, hanya dengan rasa bahagialah kedamaian akan terwujud.

Shantideca, seorang cendikiawan India, berkata, “Kebahagiaan di dalam hidup ini diakibatkan oleh niat kita untuk membahagiakan orang lain. Sementara penderitaan di dalam hidup ini diakibatkan oleh niat kita untuk membahagiakan hanya diri kita sendiri.”

Cara pandang tersebut sungguh sangat bijak dan mengena, menurut praktisi emotional healing & mindfulness, Adjie Santosoputro, dalam tayangan video yang bisa dilihat pada channel bit.ly/CelebratingPeace-Komitmen.

Hubungan yang harmonis antara diri kita dengan orang lain akan membuahkan kebahagiaan. Dan ini bisa dicapai jika kita membangun komunikasi atau interaksi dengan orang lain dengan didasari oleh cinta, bukan ego. “Karena sesungguhnya kita semua selalu terhubung satu sama lain, satu kesatuan, utuh, interkoneksi,” kata Adjie. “Apa yang dialami satu bagian akan dirasakan dan memengaruhi keseluruhan. Kalau Anda menyakiti orang lain, sebenarnya Anda pun sedang menyakiti diri sendiri.”

Teori tersebut bukanlah sekadar pernyataan moral, namun telah terbukti secara ilmiah. Pada tahun 1951, ahli Fisika Quantum, David Bohm menyatakan, “Jika partikel atom bisa dipisahkan menjadi dua bagian, lalu ketika satu bagian diubah arah putarannya, maka ia akan memengaruhi arah putaran bagian lainnya.”

Hal tersebut, tandas Adjie, selaras dengan ajaran-ajaran spiritual yang sudah lebih dulu memahaminya. Bahwa meski kita terlihat tidak ada hubungan dengan orang lain, sejatinya justru sebaliknya—kita semua saling terkoneksi, satu keutuhan. Kita semua saudara alias ‘satu udara’.

Dengan begitu, jika ada seseorang menyakiti orang lain, maka sesungguhnya dirinya tidak sadar bahwa orang lain tersebut adalah dirinya juga. Dia masih menggunakan egonya, memikirkan dirinya sendiri dan masa bodoh dengan orang lain. Dan inilah yang memicu banyak masalah dan derita dalam hidup. Betapa tidak, dengan ego kita selalu merasa benar dan orang lain salah. Dengan ego kita menjadi kurang peduli dengan lingkungan, sementara kita adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain dalam menjalani hidup.

Latihan Buang Ego
Dengan menyadari bahwa kita adalah satu inilah maka kita bisa menghindari untuk menyakiti orang lain ketika berinteraksi. “Orang-orang yang menyadari bahwa hidup ini bukan cuma ‘aku’, tapi ‘kita’, maka akan sedapat mungkin bersikap baik dan welas asih kepada siapa saja. Ia tak akan tega menyakiti hati orang lain, karena ia sadar hal itu akan menyakiti dirinya sendiri,” urai Adjie.

Meski begitu, tak dimungkiri, sikap egois itu manusiawi. Pasti kita tak jarang juga bersikap egois ketika sesekali berhadapan dengan masalah-masalah tertentu, merasa diri kita yang benar dan orang lain salah. Jika hal ini terjadi, Adjie memberi saran untuk melakukan beberapa langkah ini:
– Berhenti sejenak, tarik napas dalam-dalam, lalu embuskan.
– Dalam kondisi hening, akuilah bahwa kita memang sedang ‘hilang kesadaran’.
– Kembalikan kesadaran dengan kembali menarik napas dan mengembuskannya, lalu katakan dalam hati secara tulus, “kamu adalah aku”.

Melakukan langkah-langkah tersebut, dikatakan Adjie, dapat dilakukan di dalam hunian yang menghadirkan konsep ketenangan. Synthesis Residence Kemang sebagai salah satu karya apartemen yang akan dibangun oleh Synthesis Development di Jl. Ampera Raya No. 1 A, Jakarta dalam komitmennya akan menghadirkan kawasan yang mampu menghadirkan harmonisasi ketenangan positif dengan lingkungan dan sesama.