TRE memanfaatkan tremor alami yang terjadi pada tubuh untuk mengusir stres dan trauma jiwa.

Sebagai ciptaan Tuhan, tubuh kita memang cerdas. Ia akan merespons setiap gangguan yang menyerang. Salah satu respons tubuh adalah tremor atau gemetar, yang ternyata merupakan cara tubuh untuk mengatasi rasa takut, gugup, atau ketika merasa kedinginan.

Berdasarkan hal tersebut, pakar internasional di bidang trauma, David Berceli, PhD, menciptakan sebuah metode terapi untuk mengatasi stres, ketegangan, dan trauma pada tubuh. Metode itu ia beri nama TRE (Tension and Trauma Releasing Exercises), yang mengandalkan kecerdasan tubuh untuk menyembuhkan diri (self healing) dalam mengatasi stres dan trauma yang sudah mengendap di dalam tubuh.

Kita tahu, jika dibiarkan, stres dan trauma kronis ini berpotensi mengundang sejumlah penyakit fisik seperti asam lambung, amnesia, penuaan dini, hipertensi, depresi, bahkan kanker.

TRE sudah digunakan oleh Berceli selama puluhan tahun untuk menangani korban trauma di sejumlah peristiwa traumatik di berbagai belahan dunia. Sementara di Indonesia, TRE sudah digunakan sejak Desember 2016 yang pelatihannya dilakukan di 35 kota.

Sakit fisik dan jiwa pun teratasi
Global Certified TRE Provider, Gobind Vasdev, menjelaskan, TRE dilakukan melalui enam gerakan peregangan tubuh dengan tujuan untuk melepaskan ketegangan pada badan/otot. Gerakan ini secara otomatis akan memunculkan getaran (shaking) pada otot. “Kondisi ini disebut neurogenic muscle tremors (getaran otot yang dipicu dan dikontrol oleh sistem saraf),” kata Gobind.

Namun, tremor bukan satu-satunya respons tubuh dalam mengatasi ketegangan yang ada. Respons lain yang bisa terjadi adalah menangis. Menurut Gobind, itu bisa merupakan tanda bahwa masih ada masalah yang belum terselesaikan dalam hidup kita sehingga tubuh mengirimkan sinyal rasa sakit dan emosi. Jika hal ini terjadi maka disarankan latihan dihentikan dulu.

Tak hanya masalah kejiwaan, ternyata TRE juga mampu mengatasi penyakit fisik. Dari nyeri sendi, frozen shoulder, sinus, konstipasi, hingga diabetes, bahkan GERD dan saraf kejepit. “Bahkan ada yang melaporkan gangguan pendengaran dan penglihatan menjadi membaik dengan berlatih TRE.”

Siapa layak TRE
TRE bisa diterapkan pada siapa saja, mulai dari anak usia lima tahun hingga orang dewasa usia 81 tahun. Namun begitu, ada pengecualian, seperti pada pasien yang sedang recovery dari pembedahan dan wanita hamil.

Lebih jauh Gobind mengingatkan ada beberapa kondisi yang harus dihindari karena membuat tubuh tidak nyaman. Kondisi-kondisi itu biasa disebut FFD (freeze/kejang, flooding/seperti kesurupan, dan dissociate/bengong). Biasanya FFD terjadi karena tubuh tidak kuat menahan emosi yang keluar.

Karena itulah, pria yang menyebut dirinya seorang heartworker ini menyarankan pendampingan seorang provider ketika kita pertama kali melakukan TRE. Setelah itu baru bisa dilakukan sendiri di rumah. Idealnya, TRE dilakukan dua hari sekali dengan durasi masing-masing 15 menit.