Anda salah kalau mengira nama Twin House berasal dari bangunan kembar rumah makan ini. Sebenarnya nama tersebut terinspirasi oleh anak kembar salah seorang pendirinya, Rachmat Anggara. “Karena saya punya anak kembar, Arka dan Arli (7 tahun), jadi dulu maksudnya kira-kira ‘rumah si kembar’,” kisahnya kala ditemui di Twin House Cipete, pertengahan Juni lalu.

Resto yang berdiri sejak lima tahun lalu ini berawal dari usaha rumah makan kecil-kecilan. Kedai tanpa pendingin ruangan. “Bangunannya juga cuma satu dan semi-outdoor. Temboknya tidak full sampai atas tapi tetap ada atapnya,” tutur pria yang akrab disapa Angga ini.

Pada awalnya, makanan yang disajikan pun berupa makanan pinggir jalan, seperti mi yamin manis dan asin seperti, roti bakar, dan siomay. Setelah pada 2016 menjadi sebuah bangunan indoor sepenuhnya, setahun kemudian barulah Twin House memiliki dua bangunan kembar yang saling bersebelahan. Ruangannya yang bergaya Skandinavia didominasi warna putih serta elemen kayu pada meja dan kursinya terasa amat homey. Bikin betah serasa di rumah.

Juga, jauh dari dari kesan sempit atau sumpek, berkat kaca-kaca maupun jendela besar di banyak sisi ruangan. Terutama pada sisi yang menghadap bagian depan, memperlihatkan halaman resto ini yang ditumbuhi rumput hijau serta aneka tanaman dan pohon. Sedikit mengingatkan akan halaman rumah-rumah tempo dulu.

Senyaman suasananya yang membawa kita ‘pulang’ ke rumah, Twin House menyajikan aneka menu yang terbilang comfort food, makanan yang akrab dengan lidah. Menu andalannya, Dori Salsa Matah, memiliki rasa yang tidak neko-neko, layaknya masakan rumahan. Ikan dori yang digoreng dengan tepung disajikan bersama nasi, telur mata sapi, bakwan jagung, dan sambal matah ini terasa mengenyangkan.

Selain itu perlu dicicipi pula Truffle Gyutan Don, irisan lidah sapi yang disajikan dengan semangkuk nasi ala Jepang, serta aneka pasta, terutama lini Angel Hair yang helainya lebih tipis dibanding pasta pada umumnya.

Sejak tahun 2017, Twin House juga secara spesial menyajikan kopi. Nah, yang cukup unik adalah pilihan kopi Nakula dan Sadewa. Namanya diambil dari tokoh kembar dunia pewayangan, kedua kopi ini sama-sama dibekukan menjadi balok es (ice cube) kemudian dituangkan susu sebelum kita menyesapnya. Perbedaannya, pada Nakula susunya rasa hazelnut, sementara Sadewa berteman susu rasa kayumanis karamel.

Menikmati kopi di teras Twin House yang berhadapan langsung ke halaman kian menyempurnakan sore itu. Apalagi ditemani kudapan seperti Potato Chips Nachos atau Fish and Chips. Halaman tersebut juga bikin resto ini cocok dikunjungi keluarga muda yang masih memiliki anak kecil. Sementara para orang tua nongkrong, anak-anaknya dapat bebas bermain di halaman sembari tetap dapat dipantau melalui jendela besar maupun kaca-kaca.

Pelanggan pun dapat menggunakan area Twin House sebagai venue untuk workshop, ulang tahun, team building kantor, hingga pernikahan. Bukan hanya cukup luas tapi juga Instagrammable, dengan pintu berwarna kuning yang menjadi salah satu ciri khas Twin House.

Menurut pengakuan Angga, itu sebenarnya pintu bekas resto seorang rekannya, dan nyaris dicat putih. “Akhirnya tidak jadi, soalnya kelihatan nyentrik gitu,” tambahnya. Benar saja, pintu kuning itu justru seolah jadi point of attraction di Twin House sekarang. Berkunjung ke Twin House rasanya kurang lengkap tanpa berfoto dengan latar pintu kuning.

Twin House
Jl. Cipete Raya No. 4B, Cipete Selatan, Jakarta Selatan
0819-3117-3518
Jam buka: 08.00-22.00
Instagram: @twinhouse.id