Minggu sore yang cerah, sekitar 13 anak kecil turun ke bantaran Sungai Ciliwung yang melintasi kampung Astawana, Condet, Jakarta, ditemani beberapa orang yang lebih dewasa. Di bawah sana mereka kompak memunguti sampah-sampah, terutama sampah plastik, kemudian memasukkannya ke dalam kantong-kantong sampah. Aksi yang berlangsung rutin sebulan sekali ini, pada hari Sabtu atau Minggu, mereka kerjakan secara suka rela tanpa bayaran. Mereka adalah River Ranger.

Sebelum menjadi ‘pasukan penjaga’ bantaran Sungai Ciliwung, anak-anak dan pemuda Astawana terancam terjerumus ke dalam kebiasaan berjudi yang marak di lingkungan mereka. Berniat mencegahnya, Syahiq Harpi, seorang pemuda asli setempat, mengadakan kegiatan positif buat mereka. Dari membuka kelas belajar Bahasa Inggris dengan mengajak seorang tetangganya, mengajarkan bercocok tanam, hingga berbagi aneka pengetahuan seputar tanaman. Wajar, mengingat lokasi kampung ini bersebelahan dengan satu perkebunan milik pemerintah DKI Jakarta.

Di tengah berlangsungnya kelas, Syahiq juga mulai menumbuhkan kesadaran untuk menjaga lingkungan. Bukan apa-apa, tempat mereka tinggal ini rawan akan banjir. “Setahun sekali banjir sepinggang,” cerita Syahiq saat ditemui di Astawana, pertengahan Juli. “Bahkan lima tahun sekali genteng rumah terendam air. Soalnya banyak sampah.” Di samping itu tanah kampung Astawana memang rendah.

Bersih-bersih sampah
Syahiq kemudian mengajak murid-murid kelasnya membersihkan sampah-sampah di bantaran Sungai Ciliwung, dan lahirlah River Ranger. Sejak pertama kali berdiri di bulan Juli dua tahun lalu hingga kini, para ranger ini mengampanyekan Say No to Plastic. “Selain membersihkan sampah plastik di bantaran sungai, saya bersama beberapa rekan juga mengajak mereka menggunakan plastik sewajarnya, sampai ke tahap penolakan kepada plastik,” tambah Syahiq. “Kalau jajan, misalnya, jangan pakai plastik tapi bawa piring dari rumah. Sekarang kita ajak bawa tumbler ke sekolah.”

Jumlah sampah di daerah operasi River Ranger menurut pengamatan Syahiq begitu banyak. Karena itu mereka amat membuka diri bagi siapa saja yang ingin membantu. Belum lama ini River Ranger bersama lebih dari 100 orang relawan mengumpulkan 700 kg sampah plastik. “Padahal itu dalam jarak yang tidak sampai 100 meter,” ungkapnya, “dan itu belum benar-benar bersih.”

Kelas belajar yang menjadi cikal bakal gerakan River Ranger masih berlangsung hingga kini, setiap Rabu dan Jumat. Sekarang anak-anak juga diajarkan membuat ecobrick, ‘bata’ dari sampah-sampah plastik yang telah dicuci kemudian dimasukkan ke dalam botol plastik hingga padat. Dengan merekatkannya menggunakan lem kaca, ecobrick-ocobrick ini dapat disusun menjadi kursi, meja, dekorasi taman, dan sebagainya sesuai kreativitas.

Seiring waktu, gerakan River Ranger terdengar ke berbagai penjuru. Tak jarang relawan-relawan manca negara berkunjung, di antaranya dari Malaysia, Korea, serta Prancis. Para relawan ini ada yang mengisi kelas dengan mengajar Bahasa Inggris maupun berbagi cerita soal pelestarian lingkungan, misalnya pemilahan sampah, di negaranya.

Ke depan, River Ranger berencana menggelar sebuah festival yang melibatkan warga, berupa pasar dadakan, tapi tanpa melibatkan dan menghasilkan sampah plastik sama sekali.

Sungai Ciliwung teramat panjang, meliuk melintasi Bogor, Depok, hingga Jakarta. Apa yang River Ranger lakukan bisa jadi tampak begitu kecil. “Tapi kita ingin mencontohkan bahwa sedikit perubahan lewat perilaku yang baik dapat menciptakan lingkungan yang lebih baik,” tutur Syahiq sembari berharap, “orang-orang di wilayah lain ikut menyadari apa yang terjadi di bantaran sungai, terlebih jika ikut membersihkan sampahnya, sehingga turut menyelamatkan ekosistem sungai.”

River Ranger
Instagram @riverrangerjakarta
WhatsApp 089663011842