Ada kelas Tari Jawa Klasik Gaya Yogyakarta di galeri Mitra Hadiprana, Kemang, Jakarta. Kelas bertajuk Mitra Tari Hadiprana ini mendorong kita untuk turut mempertahankan dan mengembangkan seni budaya bangsa, khususnya tari Jawa, serta membudayakan hidup sehat dengan menari.

Tari Jawa Klasik Gaya Yogyakarta, dikenal juga sebagai Joged Mataram, telah ada sejak berdirinya Kesultanan Yogyakarta. Mengingat seni tari ini merupakan sebuah produk budaya setempat, jadi dengan mempelajarinya berarti kita juga mempelajari nilai-nilai budaya Yogyakarta, Jawa, dan budaya ketimuran pada umumnya, seperti sopan santun dan norma-norma, yang telah ada sejak lama.

Kelas Mitra Tari Hadiprana telah berlangsung sejak tahun 2014. Pesertanya saat ini sekitar 30 orang, dengan 15 di antaranya peserta aktif, di bawah binaan Putut Budi Santosa sebagai instruktur. Ia merupakan sutradara di balik trilogi pentas drama tari Ratu Shima yang dihelat di Gedung Kesenian Jakarta.

“Tarian yang diajarkan di sini mulai dari teknik dasar, basic, untuk pemula,” terangnya. “Setelah itu dilanjutkan dengan materi lain. Untuk peserta putri di antaraya Tari Golek, Sari Tunggal, dan Tari Srimpi,” ia melanjutkan. “Sementara, Tayungan, Klono Rojo, Klono Topeng, dan masih banyak lagi, untuk peserta putra.”

Olahraga dan olahjiwa
Gerakan Joged Mataram, seperti diungkapkan Putut, mengajarkan falsafah hidup. “Sawiji, greget, sengguh, dan ora mingkuh,” tuturnya. Sawiji (fokus) berarti konsentrasi penuh namun tanpa ketegangan, dan greged dapat diartikan sebagai semangat yang terkendali, maupun kesungguhan untuk mencapai tujuan. Kemudian sengguh, berarti rasa percaya diri tanpa kesombongan, dan ora mingkuh bisa berarti tidak berkecil hati saat menghadapi kesukaran-kesukaran, tangguh, serta bertanggung jawab.

Tak hanya olah jiwa dengan muatan filosofi, gerakan-gerakan Tari Jawa Klasik Gaya Yogyakarta juga memiliki manfaat olahraga tentunya. “Menyehatkan tubuh,” ia mulai menjelaskan. “Manfaat lebih spesifik untuk fisik di antaranya dapat mereposisi tubuh, seperti mereposisi otot, tulang yang bengkok, dan syaraf kejepit.”

Mereposisi tubuh ke posisi yang seharusnya, sebagai contoh yakni memperbaiki kondisi tulang belakang yang melengkung (skeliosis). Di samping itu juga memadatkan tulang dan mengantisipasi pengapuran tulang. Tak kalah menarik adalah manfaatnya dalam mengencangkan otot. Terlebih bagi wanita yang pernah melahirkan, karena mengencangkan dapat daerah V (vagina, bokong, paha dalam, dan perut).

Putut menambahkan, “Selain itu juga melatih fokus serta kesabaran dan masih banyak lagi, karena salah satu fungsi tari Jawa yakni sebagi media terapi.” Dengan begitu, “Mencapai keselarasan tubuh, jiwa, dan pikiran, untuk kemudian bermuara pada kebahagiaan.”

Putut mempersilakan siapa saja yang tertarik dan berminat latihan tari Jawa untuk bergabung di kelas ini, atau di kelas tari di Rumah Karya Sjuman BSD City, Tangerang setiap Selasa. Termasuk jika ingin berpartisipasi di pentas drama tari Ratu Shima, Putut juga mengajak untuk bergabung. “Pementasan ketiga rencananya akan digelar pada tahun 2020, bertempat di Candi Gedongsongo, Semarang.”

Instalment terakhir tersebut akan melibatkan murid kelas tari Jawa, komunitas seni, hingga seniman profesional dari beberapa kota: Jogja, Solo, dan Surabaya. “Bagi yang ingin bergabung,” katanya, “silakan merapat.”

Kelas Mitra Tari Hadiprana
Mitra Hadiprana, Jl. Kemang Raya No. 30, Jakarta Selatan
Minggu pukul 09.00 – 12.00 (wanita), 12.30 – 14.30 (pria)
Kontak: 0817866358 (Putut)