Di Mandira’s Garden, hidangannya tidak hanya dapat disantap di tengah hijaunya kebun. Lebih dari itu, Anda dapat menikmati sajian yang bahan-bahannya dipanen dari kebun tersebut. Apa yang tersaji di meja Anda segar dan natural. Dan jangan heran kalau Anda tidak diberikan daftar menu, karena memang tidak ada. Menu yang eksis di sini tergantung kepada apa yang tengah alam berikan, bahan apa yang tengah mengalami masa panen.

“Kalau sedang panen labu saya masak labu, atau kalau lagi panen bayam saya masak bayam,” tutur Lisa Mandira saat ditemui di kafe miliknya tersebut, tempo hari. “Beberapa sayur kita ada yang sudah bisa reguler, dengan syarat tidak diserang hama atau kepanasan. Karena balik lagi,” tambahnya, “hidup kita, kan, tergantung pada alam.”

Prasasti peralihan gaya hidup
Kebun ini dan hidangan yang dihasilkannya adalah ‘prasasti’ dari peralihan gaya hidup Lisa beserta keluarganya. Itu dipicu oleh kondisi kesehatan suaminya yang membuat dirinya was-was. Ditambah lagi, ia dan suami berasal dari keluarga yang memiliki riwayat penyakit diabetes dan problem kolesterol. “Waktu itu sebagai pasangan muda, kami makan di mana saja, tidak pernah masak, tinggal pesan, maunya praktis,” sambung Lisa.

Namun setelah apa yang menimpa suaminya dan memperhatikan riwayat kesehatan keluarga masing-masing, dirinya segera memutuskan untuk menjalani gaya hidup yang lebih sehat, lewat menyantap makanan organik. Hanya saja bahan-bahan makanan organik terbilang mahal. Karena itu, ia berusaha menanamnya sendiri di lahan mini rumahnya yang mulanya hanya seukuran 1×1 meter, sembari menimba ilmu bercocok tanam dari membaca buku dan browsing. Dari mampu mengantarkan hasil tanamnya ke meja makan keluarga, kini hidangan tersebut sampai ke meja makan para pengunjung Mandira’s Garden.

Organik, tampil unik
Dengan bahan-bahan organik yang sederhana, tanpa pestisida maupun zat aditif lain, aneka hidangan di kafe ini justru jadi terasa unik bagi umumnya masyarakat zaman now. Sebagai contoh mi ayamnya yang berwarna variatif. “Kalau sedang panen buah bit, minya berwarna kemerahan karena pakai ekstrak buah bit sebagai pemberi warna alami,” jelas Lisa. “Jadi, kalau hari ini makan minya berwarna merah, belum tentu nanti balik ke sini minya merah juga, bisa saja hijau, tergantung bahan apa yang sedang tersedia, yang sedang panen.” Mi ayam ini disajikan bersama keripik home made berdaun bawang.

Untuk ayam yang digunakan, Lisa belum berternak ayam sendiri. Ini juga berlaku dengan beberapa bahan lain, karena kebunnya tak cukup untuk memenuhi jumlah kebutuhan kafe. Maka ia menjalin kemitraan dengan petani lokal. “Dapat suplai bahan makanan juga dari sesama petani rumahan,” terangnya.

Di tengah suasana yang hijau sekaligus asri, tentunya tak boleh ketinggalan mencicipi salad Mandira’s Garden. Apa yang tengah tersedia di kebun, sebut saja daun selada, tomat ceri, bunga telang, dan aneka sayuran lain, disajikan dalam mangkuk kayu berdampingan dengan saus Japanese dressing yang berbahan dasar wijen.

Rasanya istimewa, berbeda dengan salad pada umumnya. Sayurannya terasa lebih garing saat dikunyah dan mengeluarkan rasa manis. Begitu pula dengan kudapan jagung rebus, wortel, serta mentimunnya. Rahasianya? Menurut Lisa, “Kalau sayuran dan tumbuhan lainnya dipanen saat ia benar-benar matang, rasanya akan lebih enak, dan memang punya rasa manis.”

Bunga telang, selain disajikan pada salad, juga menjadi bahan untuk minuman teh telang sekaligus memberi warna biru. Teh telang disajikan dengan berteman lemon. Coba Anda celupkan lemon ke dalamnya… Voila! Warna teh berangsur menjadi violet.

Ada pula minuman dingin kunyit asam. Sekali lagi, dengan bahan yang fresh dan dipanen di saat yang benar ketika telah benar-benar masak, menghasilkan minuman yang lebih enak, lebih menyegarkan.

Mandira’s Garden
Jl. Kemang Timur Raya no. 55, Jakarta Selatan
WhatsApp +62 818 0203 7555
Telp. +62 21 22715335
Instagram @mandirasgarden
Buka: Senin – Sabtu pukul 08.00 sampai 17.00