Berbagai industri boleh saja berbondong-bondong beralih menuju arah digital, namun romantisme medium cetak rasanya terlalu manis buat dilupakan begitu saja. The Distillery, bersama orang-orang di baliknya, melestarikan teknik cetak letterpress pada karya-karyanya, seperti kartu nama, undangan, kartu ucapan, dan aneka stationary lain.

Teknik letterpress menghasilkan cetakan bertekstur deboss (dalam) pada kertas, kebalikan dari emboss (timbul). Mesin yang digunakan di sini adalah Original Heidelberg Platen Press, pertama kali diproduksi pada awal abad ke-20 hingga tahun 1980-an sebelum lahirnya mesik cetak offset. Sebagai perusahaan manufaktur mesin cetak, Heidelberg sendiri sudah ada sejak pertengahan abad ke-19, tepatnya tahun 1850.

Di The Distillery, kita dapat dengan nyaman melihat langsung proses pengerjaan letterpress menggunakan mesin antik tersebut oleh para printmaker-nya. “Keindahan letterpress terletak pada tekstur deboss yang dikerjakan dengan melibatkan manusia,” tutur Nurjannah Ekaputri, General Manager Of The Distillery Asia, saat ditemui akhir Agustus di The Distillery, Kemang, Jakarta Selatan. “Jadi, we have craftsmanship.”

Dari mengoleskan tinta hingga mencetaknya dengan bantuan plat, berikut deru suara mesinnya, pengalaman ini seperti membawa kita kembali ke era film hitam putih. Kendati tentu saja hasil cetaknya The Distillery bisa hitam putih maupun berwarna.

Selain sebagai tempat cetak letterpress, The Distillery juga merupakan studio desain yang menghadirkan layanan konsultasi dan desain. Anda dapat bertatap muka langsung, duduk bareng, dengan awak The Distillery untuk berdiskusi mulai dari pilihan warna spesifik hingga tipe kertas sesuai kebutuhan Anda.

“Salah satu yang sekarang sedang tren itu destination wedding. Ada klien kita yang menikah di Italia ingin venue-nya digambar di undangannya untuk berbagi kebahagiaan, kita bisa juga. Atau ada juga yang ingin undangannya selaras dengan motif pakaian pernikahannya yang mengusung konsep traditional wedding,” tambahnya. “Those little personal touches.”

Saat ini ada 3 mesin letterpress yang beroperasi, menjalankan proses cetak pada kertas hingga ukuran A4. Untuk kertas yang digunakan, “We’re proud to say bahwa kami menggunakan kertas daur ulang dan tersertifikasi,” ungkap Nurjan.

Harus diakui bahwa pencetakan menggunakan mesin-mesin antik tersebut memakan waktu lebih lama. Seperti ia katakan, proses hingga produk rampung berlangsung selama 15 sampai 20 hari kerja, sementara digital print dan ofset bisa menyelesaikannya hanya dalam waktu dua hingga tiga hari kerja.

Alasannya bukan semata karena terbatasnya kecanggihan mesin yang digunakan, namun berkaitan dengan filosofi dari The Distillery, Lancar Kaji Karena Diulang, yang tertulis besar pada dinding di halamannya. “Kita percaya kepada proses, bahwa hasil yang baik tidak bisa didapatkan secara instan,” ia menjelaskan makna kalimat tersebut. “Kita pastikan semuanya baik, meski kadang proses menuju baik tidak mudah dan tidak cepat.”

Hadir ‘melawan’ arus digital sejak 2014, bukan berarti The Distillery menolak modernitas. “Kita senang juga dengan adanya digital karena memudahkan banyak hal, seperti dalam mendesain, dan banyak klien yang datang setelah melihat Instagram kita,” terangnya. Namun kembali lagi, romantisme cetak letterpress telah membuat dirinya serta para penggawa The Distillery jatuh cinta dan terus menghidupkannya.

“Meski banyak yang menganggap bahwa print sudah outdated, we don’t think print will ever die,” tuturnya yakin. Ada benarnya juga jika menilik perjalanan medium cetak melintasi peradaban manusia dan, meski kini bukan lagi dianggap sebagai medium yang mainstream, tidak juga punah. “We need prints dan cara menghargainya harus beda.”

The Distillery
Jl. Taman Kemang 14C, Jakarta Selatan
Telp. (021) 2952 9048
Email info@thedistillery.co.id
thedistillery.co.id
Instagram @ thedistilleryasia
Buka: Senin – Jumat pukul 09.00 – 18.00, Sabtu by appointment